Kamis, 29 Juli 2010

Seklumit Cerita Dari Sudut Kota

Malang, kota yang berada di jawa timur ini sekarang mulai menjadi pusat perhatian. selain dari perkembangan ekonominya yang sangat pesat, kefanatikan akan sepak bolanya yang membuat nama kota ini semakin terkenal di penjuru negeri. AREMA itu adalah klub yang mereka sangat banggakan. Loyalitas dukungan untuk sebuah klub itu menjalar bagai virus di kota ini. Anak-anak , remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek-kakek dan nenek-nenek semua sangat setia dalam mendukung tim kebanggaan ini. Di jalan, di pasar, di perumahan, dimana-mana di sudut kota ini banyak kita jumpai orang-orang memakai atribut arema.
Di kota inilah aku di besarkan. selama 15 tahun aku hidup di kota ini. melewati masa-masa remaja di kota yang dingin ini membuatku teracuni pikirannya sama dengan mereka, fanatisme terhadap klub bernama AREMA itu.Di kota ini aku mempunyai seorang sahabat, ulul namanya. Dia sebenarnya adalah kakak kelasku ketika aku masih duduk di bangku smp. orangnya sangat sederhana, tapi punya pemikiran yang sangat luar biasa. Dia mengatakan kepadaku dia ingin menjadi guru di sekolah dasar. Aku sangat heran waktu itu, di tengah gencarnya pemberitaan mengenai sulitnya menjadi guru dia malah ingin menjadi seorang guru. Sempat aku tanyakan apa alasannya, dan dia menjawab yang membuat aku terkagum "aku ingin menananmkan rasa nasionalisme kepada anak anak", jawaban yang sangat padat, singkat, dan jelas tapi benar-benar membuat aku terkejut dan bangga akan temanku yang satu ini.
Suatu malam ketika aku pulang ke Malang, Ulul mengajakku untuk bertemu. Sekedar menyeruput segelas kopi dan berbagi pikiran katanya. Jam 7 kita bertemu di sebuah kedai kopi. tak terasa kita sudah hampir dua jam mengobrol saling berbagi pikiran. Topik di mulai dari membicarakan soal musisi hingga beda peran dan fungsi. tak terasa kedai itu pun sudah mau tutup. akhirnya aku berinisiatif untuk berpindah tempat.Dia mengajakku ke kawasan "BOLDY" begitu orang sini menyebutnya. terletak di kawasan kota lama. dari sinilah sebenarnya aku terinsipirasai untuk menulis
Begitu sampai kami langsung memakirkan sepeda motor kami di depan sebuah warung kopi sederhana. dan memesan dua gelas kopi susu. aku melihat sekeliling dari kawasan itu. terlihat beraneka ragam penjual. mereka berjualan di emperan toko yang sudah tutup. dari berjualan stiker, kaos bekas, celana bekas, apa saja serba ada. orangnya pun ramah-ramah. Mereka menciptakan dunia mereka sendiri disini. mereka tidak memerlukan mall yang mewah untuk berbelanja semua sudah tersedia disini. bahkan mereka tidak perlu bersekolah untuk mengetahui bahwa barang yang mereka jual ataupun yang mereka beli berkualitas atau tidak. ketika disini aku merasa menyebrangi ke bagian dunia yang lain.
Lamunanku di buyarkan ketika sang penjual kopi datang menghampiri dan berkata susunya sedang habis, akhirnya kami mengganti pesanan dengan segelas teha hangat. waktu itu warung kopi sedang ramai, beragam orang berkumpul disini. dari mulai remaja pengangguran hingga bapak-bapak tukang tarik kredit ada disini. semua berkumpul untuk meminum segelas kopi dan menghisap dua atau tiga batang rokok. yang membuat aku bingung mereka semua saling bercengkrama satu dengan laiinya. tertawa bersama sama terbahak-bahak. padahal aku tau dari raut wajah mereka memancarkan luka tiada terperi. luka akibat kebobrokan bangsa ini dalam menyejahterkan rakyatnya. tapi mereka seakan akan lupa ketika mereka sudah di hadapkan dengan segelas kopi, sebatang rokok dan suara suara canda dari teman seperjuangan mereka. Seakan akan beban hidup itu hilang pergi entah kemana. Dan sepertinya hal itu yang membuat mereka terus bertahan hidup hingga sekarang. Bahkan aku dengar percakapan mereka membicarakan tentang judi togel. Sebuah pelajaraan bagiku, betapa aku seringnya mengeluh tentang hidupku. ternyata disini di sudut kota tua yang makin menua ini banyak orang orang yang masih bisa bertahan dengan hanya sedikitn senyuman. walau sebenarnya kenyataan hidupnya sangat pahit. disini di warung kopi ini.

1 komentar:

  1. Tapi, sayang ndon!! Dewi Fortuna belum memihak kepadaku sekarang.. Tak apalah, Struggle Never End!! Begitu juga engkau, mari kita melesat ke berbagai arah.. Untuk sesuatu yang lebih baik, yang melewati kerumitan demi kerumitan, NOTHING IS IMPOSSIBLE, NOTHING WILL LET YOU TO THE MOON!!!:)

    Cheerss!!:)

    BalasHapus

komenlah dengan komen yang bermutu !