
Jumat, 30 Juli 2010
REVIEW ALBUM FOR THIS MONTH

Kamis, 29 Juli 2010
Seklumit Cerita Dari Sudut Kota
Di kota inilah aku di besarkan. selama 15 tahun aku hidup di kota ini. melewati masa-masa remaja di kota yang dingin ini membuatku teracuni pikirannya sama dengan mereka, fanatisme terhadap klub bernama AREMA itu.Di kota ini aku mempunyai seorang sahabat, ulul namanya. Dia sebenarnya adalah kakak kelasku ketika aku masih duduk di bangku smp. orangnya sangat sederhana, tapi punya pemikiran yang sangat luar biasa. Dia mengatakan kepadaku dia ingin menjadi guru di sekolah dasar. Aku sangat heran waktu itu, di tengah gencarnya pemberitaan mengenai sulitnya menjadi guru dia malah ingin menjadi seorang guru. Sempat aku tanyakan apa alasannya, dan dia menjawab yang membuat aku terkagum "aku ingin menananmkan rasa nasionalisme kepada anak anak", jawaban yang sangat padat, singkat, dan jelas tapi benar-benar membuat aku terkejut dan bangga akan temanku yang satu ini.
Suatu malam ketika aku pulang ke Malang, Ulul mengajakku untuk bertemu. Sekedar menyeruput segelas kopi dan berbagi pikiran katanya. Jam 7 kita bertemu di sebuah kedai kopi. tak terasa kita sudah hampir dua jam mengobrol saling berbagi pikiran. Topik di mulai dari membicarakan soal musisi hingga beda peran dan fungsi. tak terasa kedai itu pun sudah mau tutup. akhirnya aku berinisiatif untuk berpindah tempat.Dia mengajakku ke kawasan "BOLDY" begitu orang sini menyebutnya. terletak di kawasan kota lama. dari sinilah sebenarnya aku terinsipirasai untuk menulis
Begitu sampai kami langsung memakirkan sepeda motor kami di depan sebuah warung kopi sederhana. dan memesan dua gelas kopi susu. aku melihat sekeliling dari kawasan itu. terlihat beraneka ragam penjual. mereka berjualan di emperan toko yang sudah tutup. dari berjualan stiker, kaos bekas, celana bekas, apa saja serba ada. orangnya pun ramah-ramah. Mereka menciptakan dunia mereka sendiri disini. mereka tidak memerlukan mall yang mewah untuk berbelanja semua sudah tersedia disini. bahkan mereka tidak perlu bersekolah untuk mengetahui bahwa barang yang mereka jual ataupun yang mereka beli berkualitas atau tidak. ketika disini aku merasa menyebrangi ke bagian dunia yang lain.
Lamunanku di buyarkan ketika sang penjual kopi datang menghampiri dan berkata susunya sedang habis, akhirnya kami mengganti pesanan dengan segelas teha hangat. waktu itu warung kopi sedang ramai, beragam orang berkumpul disini. dari mulai remaja pengangguran hingga bapak-bapak tukang tarik kredit ada disini. semua berkumpul untuk meminum segelas kopi dan menghisap dua atau tiga batang rokok. yang membuat aku bingung mereka semua saling bercengkrama satu dengan laiinya. tertawa bersama sama terbahak-bahak. padahal aku tau dari raut wajah mereka memancarkan luka tiada terperi. luka akibat kebobrokan bangsa ini dalam menyejahterkan rakyatnya. tapi mereka seakan akan lupa ketika mereka sudah di hadapkan dengan segelas kopi, sebatang rokok dan suara suara canda dari teman seperjuangan mereka. Seakan akan beban hidup itu hilang pergi entah kemana. Dan sepertinya hal itu yang membuat mereka terus bertahan hidup hingga sekarang. Bahkan aku dengar percakapan mereka membicarakan tentang judi togel. Sebuah pelajaraan bagiku, betapa aku seringnya mengeluh tentang hidupku. ternyata disini di sudut kota tua yang makin menua ini banyak orang orang yang masih bisa bertahan dengan hanya sedikitn senyuman. walau sebenarnya kenyataan hidupnya sangat pahit. disini di warung kopi ini.
Selasa, 20 Juli 2010
Why we should fight with head if we can fight with hand



Tanggal 16 juli 2010 diadakan pembukaan untuk yogyakarta gamelan festival. Acara yang di gelar bersamaan dengan JOG ART membuat acara itu terasa lebih meriah. Mungkin ada sekitar 100 orang dari berbagai kalangan dari dewasa hingga muda menghadiri acara tersebut. Tak hanya orang lokal, turis mancanegarapun ikut menghadiri acara pameran kesenian itu. Ratusan seniman memamerkan karyanya, dari seni rupa hingga seni suara turut serta.
Seorang pembicara mengatakan, bahwa yogyakarta adalah kota yang paling hebat dalam apresiasi terhadap seni. Dia sudah mengunjungi berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, dan Semarang tidak bisa menyaingi yogyakarta. Mereka melihat antusiasme anak muda terutama terhadap seni sangat rendah. Apalagi seni kebudayaan mereka sendiri. Mereka terlalu terlena dengan seni seni kontemporer yang dibawa oleh para kaum barat. Mereka menganggap seni budaya mereka itu sudah terlalu ketinggalan jaman.
Sebagai warga Yogyakarta, jujur saja saya memang bangga dengan anak anak muda disini. Ditengah budaya budaya barat yang terus saja membanjiri dan merasuki otak otak anak muda indonesia, sepertinya itu tidak berlaku di otak para pemuda yogyakarta. Semua serentak bergerak untuk mengembangkan kreativitas di bidang seni. Semua menggunakan tangan bahu membahu tidak hanya berwacana di dalam otak. Tidak hanya mengeluarkan pendapat dan kritik yang terlalu “muluk – muluk”. Semuanya polos apa adanya, tidak berlebihan. Semua yang ada di manfaatkan. Selain itu dari pemerintah juga mendukung adanya kegiatan kegiatan seni yang membangun. Bahkan pemerintah kota yogyakarta mengadakan anggaran puluhan juta rupiah setiap tahunnya untuk pembangunan seni di yogyakarta. Tidak hanya menyalahkan generasi generasi muda yang tidak mengembangkan senilah atau apalah tapi tidak memberikan ruang lingkup seni generasinya untuk berkembang. Sudah saatnya kota kota yang lain meniru kota yogyakarta. Kita sudah saatnya bergerak menggunakan tangan kita, tidak hanya berwacana dalam otak
